Aisyah merapikan tempat tidurnya
yang berantakan, dipandangnya sekilas sebuah pigura berwarna merah muda yang
berada di sudut meja belajarnya, nampak dua orang gadis kecil berseragam putih
merah tersenyum ceria. Kemudian Aisyah memandang ke cermin, merapikan seragam putih
biru yang dikenakannya. Tiba-tiba ekspresinya berubah jadi menerawang ke masa itu, saat masih ada gadis itu.
Grace tetangga sebelah rumah yang
seumuran dengan Aisyah, ayahnya keturunan bule Prancis dan ibunya orang
Indonesia asli. Saat kenaikan kelas 6 SD, tiba-tiba Grace sekeluarga pindah ke
Paris karena neneknya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Sejak itu dia menetap
di sana dan di sebelah rumah hanya tinggal pembantunya yang sesekali datang
membersihkan rumah tapi mereka berjanji akan tetap mengirim kabar lewat email. Aisyah paling suka melihat Grace
dengan wajah Indonya memakan bakso kesukaannya. Grace selalu bilang, “Muka
boleh blasteran tapi hati tetap satu cinta tanah air Indonesia.”
“Ca, ayo berangkat sudah jam
berapa ini?,” ucap cowok berseragam putih abu yang tiba-tiba muncul di depan
pintu kamar Aisyah, membuyarkan lamunannya. “Ah, iya Kak sebentar,” dengan
cekatan tangannya memasang jam tangan warna pink yang sudah menunjukan pukul
05:45, meraih tas kemudian menyusul kakaknya.
Di meja makan, papa dan mamanya
sudah menunggu untuk sarapan. “Ayo Ca, Faisal nasi gorengnya keburu dingin
lho,” ujar mama.
Selesai sarapan, dikeluarkannya
mobil sedan berwarna silver oleh
papa. Di dalam mobil, tak lupa Aisyah mengotak-atik ipad yang di bawanya.
“Pasti ng’cek email dari Grace?.” Kak Faisal melirik
sesaat ke arah ipad yang di pegang adiknya.
“Syirik aja sih, Kak!. Ah Grace
bilang dia akan berlibur di Indonesia minggu depan.” Aisyah berteriak kegirangan,
papanya ikutan tertawa.
Beberapa menit kemudian mereka
tiba di sekolah. Sekolah Aisyah dan kakaknya bersebelahan. Sebelum turun dari
mobil, tak lupa mereka berpamitan dan mencium tangan papanya.
Saat bel istirahat berbunyi.
Aisyah dan 4 orang temannya seperti biasa berkumpul di bawah pohon rindang. Ada
Nita yang tomboy, Sifha yang imut, Radit dengan kacamatanya, dan Reno si
tampan.
“Hei dengar, sahabat kecil ku
yang tinggal di Paris akan berlibur ke sini lho, seneng banget aku.” ujar
Aisyah sambil menunjukan email dari Grace.
“Wah, seru donk. Kenalin ke kita
ya, Ca.” seru Nita.
Aisyah mengangguk. “ Pasti donk,
tapi jangan di bully ya dia.”
Reno menatap dengan tajam, “Gak,
di bully kok, Ca. Cuma dijadikan pacar.”
“Huuuu…. Terus si Dinda, Tamara taruh
mana? Dasar playboy kelas teri” kata Sifha dengan tangan mungilnya memukul pelan
pundak Reno.
Radit yang daritadi sibuk membaca
buku ikutan angkat bicara, “Lama di luar negeri apa dia masih ingat dengan
sini? Secara sekarang banyak orang Indonesia yang sok kebulebulean gitu.”
“Tapi Grace beda, dia tetap cinta
tanah air kok, buktinya dia masih WNI lho.”
“Ya, kita liat aja nanti, Ca.”
Diskusi mereka pun berakhir saat
bel masuk pelajaran berbunyi. Bu Endang, guru sejarah sudah masuk di kelas,
mendongeng panjang lebar tentang sejarah Indonesia. Tapi tangan Aisyah justru
sibuk di bawah meja mengotak-atik ipad-nya,
asyik chat YM dengan Grace.
Tiba-tiba Bu Endang memanggilnya,
“Aisyah, coba jelaskan apa yang kamu ketahui tentang hotel Majapahit?.” Sontak
Aisyah langsung celingukan bingung mau jawab apa. Untung saja Shifa teman
sebangkunya menyodorkan buku paket sejarah tentang hotel Majapahit.
“Itu bu hmm.. Dulu namanya hotel Orange, Bu. Di situ dulu terpasang
bendera Belanda dengan warna merah putih biru di puncak hotel. Lalu dengan
berani arek-arek Suroboyo naik ke
atas dan merobek warna biru dari bendera tersebut, Bu.”
“Iya, cukup bagus. Baik Ibu
lanjutkan,” ujar Bu Endang sambil melanjutkan materi.
“Pssst.. Hampir aja, Shif.
Makasih ya.” Shifa pun tersenyum sembari memberi isyarat agar tetap tenang.
Waktu sudah menunjukan pukul 14:00,
giliran bel pulang yang berbunyi. Semua murid berhamburan keluar kelas.
Demikian Aisyah dan 4 temannya.
Kak Faisal sudah menunggu di
depan pagar sekolah, duduk di pinggir jalan.
“Kak, hari ini aku pulang bareng
mereka ya naik mobilnya Shifa, soalnya mau ke rumah Radit buat ngerjain tugas
kelompok,” kata Aisyah sambil menunjuk teman-temannya.
“Yaaa.. Berarti kakak pulang naik
angkot sendirian dong?,” kata Kak Faisal dengan ekspresi kecewa.
Dengan bersemangat Shifa berkata, “Kak, Ichal,
pulang bareng kita juga aja gimana?.”
“Ah, jangan kesenengan kamu ntar,
lagian kelamaan nanti keburu sore,” kata Reno sambil mengacak-acak rambut
panjang Shifa.
“Apa kamu!.” Shifa mendengus
kesal di iringi tawa teman-teman yang lain.
Akhirnya mereka berlima pun naik
ke dalam mobil APV hitam yang sudah
menunggu daritadi dan Kak Faisal pulang sendiri naik angkutan umum.
“Pak Rudi, kita ke rumah Radit
ya,” kata Shifa kepada supir pribadinya yang setia menemani.
Dalam perjalanan tak lupa Aisyah
mengeluarkan ipad-nya, melanjutkan chat yang tadi terputus gara-gara Bu
Endang.
ü Haii,
Grace. Maaf tadi terputus karena guruku tiba-tiba manggil dan menyuruh
menerangkan sejarah Indonesia kesukaanmu.
ü Yeach, don’t worry, Ca. Ini
aku lagi berkemas-kemas untuk ke Indonesia, aku rindu sekali dengan masakan
Indonesia.
ü Lho,
liburannya kan masih minggu depan, ngapain berkemas sekarang?
ü Because I was very interested and hope to be back to Indonesia, can play again
with you I missed it.
ü I miss you too, Grace. Nanti aku
akan kenalkan kamu ke teman-temanku di sini.
ü Are you sure? Oh, Thanks God for my dream come true. Ingat ya walau berbeda-beda
kita tetap satu tanah air Indonesia.
ü Okay, seperti lagu yang sering kamu
nyanyikan Aku bangga menjadi anak Indonesia. Sampai nanti ya, aku mau kerja
kelompok nih.
ü Okay, see you
Aisyah menghentikan chatnya dan memasukan ipad-nya
ke dalam tas saat mobil sudah berhenti di depan rumah Radit. Mereka pun turun
dari mobil, masuk ke rumah Radit. Beberapa menit kemudian mereka berlima sibuk
berjibaku dengan tugas Kewarganegaraan. Ibunya Radit datang menghampiri membawakan
makanan dan minuman untuk tamu kecil ini.
Waktu sudah menunjukan pukul 5
sore, Pak Rudi sudah membunyikan klakson mobil agar anak-anak cepat pulang.
Beberapa jam kemudian, Aisyah
sudah tiba di rumah. “Ca, cepetan mandi gih keburu malem ntar,” pinta mama
begitu melihat Aisyah muncul di depan pintu.
“Iya, Ma,” sahut Aisyah dengan
mencium tangan mamanya.
Prancis,
Paris. Terik matahari
bersinar terang membuat Grace semakin bersemangat. “Okay, I’m ready. I’m coming Indonesia,” serunya. Diletakannya semua
koper yang hendak di bawa ke Indonesia di ruang tamu dekat perapian rumah di
bantu mamanya.
Papa baru pulang dari kantor,
membawa tiket pesawat untuk ke Indonesia. Saat itu juga mereka meluncur ke airport tanpa sepengetahuan Aisyah
karena Grace ingin memberi kejutan untuknya dengan mengatakan akan ke Indonesia
minggu depan padahal saat ini sudah meluncur ke airport.
Grace tertawa kecil membayangkan
ekspresi sahabat lamanya saat melihat dia datang lebih cepat.
“C'est quoi l'amour?,” tanya papa heran
melihat tingkah anak semata wayangnya itu.
“Pas ce que papa, je ne peux pas attendre pour répondre Aisyah,” jawab Grace kalau
dia hanya ingin segera bertemu Aisyah.
Sesampainya di airport
mereka menunggu sebentar untuk masuk ke dalam pesawat yang segera take off. “Untung gak delay nih
pesawat,” batin Grace
dalam hati.
Setibanya di Bandara
Internasional Juanda, Grace melirik jam tangannya, menyesuaikan waktu dengan
WIB. “Surabaya, I’m here now!,”
teriak Grace.
Pukul 11:00 WIB, Grace pikir
Aisyah sekarang masih sekolah dan ini waktu yang tepat untuk tiba di rumah
sebelum Aisyah pulang duluan.
“Mama, sudah tidak sabar menengok
rumah kita, bagaimana kondisinya sekarang ya?.”
“Pasti tetap lha, Ma kan ada mbak
Ita yang bersihin tiap hari.”
“Papa aussi heureux d'être de retour ici, nombreux
souvenirs d'enfance dans cette maison
Grace,” kata Papa yang artinya senang kemballi ke
sini, dimana banyak kenangan masa kecilku di rumah itu.
Grace memeluk papanya,
berterimakasih, “Merci papa enfin
prêt à prendre le temps de revenir
ici.”
Di
dalam taksi yang membawa mereka pulang ke rumah. Mama teringat kalau besok
adalah hari pahlawan. Pasti akan ramai sekali acara di Surabaya pikir mereka.
Beberapa
jam kemudian mereka telah tiba di rumah, tak lupa mereka berkunjung ke rumah
keluarga Aisyah, membawakan cenderamata dari Paris.
Denting
jam di ruang tamu rumah Aisyah menunjukan pukul 14:30. Biasanya mereka sudah
pulang dan tepat seperti dugaan mama Aisyah, suara kedua anaknya terdengar di
kejauhan.
“Lho ada tamu, Kak. Siapa
ya?,” tanya Aisyah
bingung. Kak Faisal hanya mengangkat kedua bahunya menyatakan isyarat tidak
tau.
Betapa
terkejutnya Aisyah begitu tau bahwa Grace sekeluarga yang datang.
“Hai, Aisyah. Apa kabar?,” kata Grace dengan ramah, membuka kedua
tangannya untuk memeluk Aisyah.
Aisyah masih terpaku melihat
Grace yang sudah begitu lama tidak di temuinya berdiri di depannya. Kak Faisal
justru nyelonong memeluk Grace. Semua pun tertawa.
Lalu Aisyah dan Grace masuk ke
kamar Aisyah. “Tidak ada yang berubah ya, Ca?.” Grace memandang seluruh kamar
Aisyah, melihat foto kecil mereka.
“Iya, kamu kok jahat sih gak
kasih kabar aku?.”
“Lho, aku kan sengaja kasih surprise ke kamu.” Tak berapa lama
mereka hanyut dalam obrolan penuh keakraban.
Keesokan harinya tanggal 10
November, hari pahlawan. Aisyah dan Kak Faisal mengenakan baju bebas bertema
pahlawan dengan model tentara. Grace pun tidak mau kalah, dia ikut menyusul
Aisyah dengan pakaian ala dokter.
Kali ini Grace ikut ke sekolah
Aisyah, melihat upacara bendera merah putih yang sudah lama tidak di jumpainya
di Paris.
Selesai upacara Aisyah
mengenalkan Grace kepada empat temannya.
Melihat wajah Grace yang Indo,
Radit menyapa dengan bahasa Perancis, “Bonjour Ravi de vous rencontrer, mon nom Radit.”
“Radit, Aku masih bisa bahasa
Indonesia kok,” kata Grace dengan gaya sedikit kejawaan.
Shifa, Nita, Reno pun
menertawakan Radit. Kemudian Aisyah berinisiatif mengajak Grace jalan-jalan
keliling Surabaya.
“Siapa mau ikut?,” seru Aisyah
diiringi acungan tangan teman-temannya. Seperti biasa mereka pergi diantar Pak
Rudi, berkeliling kota Surabaya melihat pawai di balai kota. Dalam pawai itu terdapat berbagai macam orang,
tetapi mereka tetap satu tujuan, Cinta Tanah Air dalam merayakan Hari Pahlawan!
Merdeka!